Halloween party ideas 2015

foto aksi massa Aliansi Mahasiswa Papua, komite kota Bogor


Pada 19 Tahun Biak Berdarah, 6 Juli 2017, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) secara nasional peringatkan Negara terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Aparatur (militer) dibawa Kontrol Presiden Soerharto—pasca reformasi 1998. Dari sekian media yang menyirkulasi berita, hari itu, MetroSindronews dot com mewartakan berita yang sangat tidak rasional dan sangat tidak objektif terhadap tujuan serta tuntutan aksi AMP Bogor (6/7) yang diberitakan oleh Haryudi. Saya menilai, opini tersebut sangat berpotensi membangun kebencian terhadap keberadaan mahasiswa Papua di mata masyarakat Bogor. Saya akan menguraikan muatan beritanya, terlepas dari etika jurnalistik, mulai dari judul berita hingga Isiannya.

Pertama, mengutip kalimat akhir di paragraf pertama, “...kecaman atas perpanjangan kontrak Freeport.” Padahal aksi mahasiswa Papua di Bogor pajangkan dua spanduk berisi tuntutan “Negara Bertanggungjawab atas Kejahatan Kemanusiaan di Papua Barat” dan “Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Barat” serta jujuan aksinya iyalah peringati 19 tahun Biak Berdarah.

Asumsi dari uraian diatas bahwa wartawan MetroSindronews tidak memantau di lapangan serta tidak tahu-menahu informasi seruan aksinya, sebelum itu. Entah Ia menyaring sumber dari siapa? Dan dimana? Sehingga mewartakan berita yang tidak produktif serta menyebarkan berita palsu kepada publik?

Kedua, mengutip paragraf terakir, “... pihak kepolisian membiarkan aksi tersebut melawan arus lalu lintas yang diterapkan Sistem Satu Arah (SSA) hingga mengalami kemacetan.” Ia menggunakan warga sebagai sumber alasan pembenaran hal tersebut. Bahwa Haryudi memanipulasi sumber dan memihak kepada satu sisi saja bahwa Polisi mematuhi dan menghargai Hak mahasiswa Papua longmarch melawan arus. AMP Bogor menyesalkan hal itu. Mengutip ampnews.org (8/8), pengurus AMP Bogor mengatakan Polresta Kota Bogor meneror, mengintimidasi, hingga menginterogasi Mahasiswa Papua saat mengantar Surat Pemberitahuan Aksi, serta rute aksi pun ditentukan kehendak Polisi.

Ketiga, Ia menulis, "Mahasiswa Papua Bogor memanfaatkan kesempatan saat Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke Turki dan Jerman." Hal ini juga sangat subjetif. Setiap 6 Juli, orang Papua, yang ada di Papua, luar Papua dan dimana saja selalu peringati Tragedi Biak Berdarah yang dilakuan oleh Negara melalui aparat Militernya. Dan Mahasiswa Papua secara nasional melakukan aksi di Jawa dan Bali.

Sehingga muatan berita ini tidak hanya menyudutkan/mendiskriminasi mahasiswa Papua, tetapi juga membangun opini publik, menyebar pandangan buruk, membangun kontruksi kebencian kepada masyarakat bogor, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Yogyakarta—hingga detik ini mahasiswa Papua Jogja sangat kesulitan mendapat kos-kosan. Hal itu terjadi, di Jogja, berawal dari peran media yang terus membangun opini publikmendiskriminasi, rasial serta tindakan pengepungan asrama Mahasiswa Papua. Serta aksi-aksi mahasiswa Papua Yogyakarta selalu mendapatkan represif oleh, tidak hanya polisi, juga ormas-ormas milisi reaksioner, seperti Pemuda Pancasilah yang turut bergabung dalam tiga hari pengepungan asrama Papuafaksi Katon yang di koordinir oleh Muhamad Suhud, dan gabungan ormas lainnya yang selalu turut serta dalam aksi reaksionis Polisi terhadap Mahasiswa Papua.

Hal itu belum pernah terjadi di kota Bogor selama ini. MetroSindronews, kami menilai, sedang membangun pandangan buruk warga bogor akan berdampak pada kebencian antar-sesama rakyat yang tindas: mahasiswa Papua dan warga kota Bogor.

MetroSindronews, tindakan manipulasi sumber berita dari warga-masyarat sebagai alasan pembenaran, adalah hal yang tidak rasional. Posisi keberadaan sosial warga Bogordan rakyat Papua, hari ini, AMP melihat berdampak dari tindakan penguasa, dimana Pemerintah Indonesia bersekutu dengan kapitalis-imperialis, sejak Seokarno dilengserkan dan kekuasaan jatuh kepada tangan Soeharto—sekutu dengan Imperialis, serta merampas seluruh lahan pertanian dan mengasingkan masyarakat serta menguras rakyat dalam sistim yang terotonomi. Sehingga Media sangat berperang penting untuk menghemoni pikiran serta mencorong ide dan gagasan palsu, ilusi-ilusi yang mengalienasi.

Peranan media sangat diperlukan oleh borjuis serta kapitalis untuk melanggengi kepentingannya. Terus membangun kebencian antara sesama rakyat tertindas, memelihara rasisme, dan penguasa terus berjaya diatas penderitaan rakyat.

Peran Media Dalam Membangun Kesadaran Rakyat

Meruntuhkan kekuasaan dan merebut kekuasaan oleh kaum tertindas, tak hanya dengan menggunakan kekuatan-kekuatan fisik serta aksi-aksi dalam jumlah massa yang banyak. Media juga berperan penting untuk memembebaskan kesadaran rakyat dari hegemoni penguasa/penjajah. Selama 56 tahun rakyat Papua hidup dibawa sistim kolonial.

Dimana sistim pemerintahan yang terpusat di Jakarta, media (cetak dan online, TV), pendidikan, partai borjuasi, Undang-Undang serta ilmu pengetahuan yang dikendalikan langsung dari Ibu Kota Kolonial. Selama masa kolonisasi, Ide, filsafat dan gagasan-gagasan serta tipu daya kolonial telah tertanan dan berakar dalam Pikiran rakyat Papua. Sementara penindasan itu terus terjadi dan melanggengi kepentingan akumulasi kapital serta eksploitasian sumber-sumber hidup Rakyat.

Maka, Perjuangan pembebasan rakyat Papua Barat, adalalah dimana perjuangan mengusir penjajah serta kebudayaan orang Papua yang tekontaminasi dengan budaya dan pengetahuannya kolonial. Hal itu sangatlah mustahil bagi kita dalam kondisi hari ini, dimana ruang demokrasi terus dibranguskan oleh aparatus reaksioner, media sirkulasi Inforasi Papua dihecker (dibatasi) oleh Kementerian Informatika dan Komunika, serta kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang sangat jauh dari keberadaan sosial masyarakat, yang seharusnya rakyat berdialetika untuk merubah ketertinggalan.

Membangun kesadaran rakyat dan bangkit melawan penindasan, itulah yang tak dinginkan oleh Penguasa. Sebab tercipta antagonisme klas, kontradiksi yang terus berpolemik akan mengganggu akses eksploitasian serta akumulasi kapital. Sehingga Negara serta kapitalis-imperialis membutuhkan alat kontrol masyarakat, yakni aparatus Ideologi dan aparatus reaksioner. Dimana Polisi (alat represif Negara) mengontrol aksi-aksi perlawanan rakyat, hingga berhati-hati berbangun kesadaran rakyat. Diskusi dibubarkan, perpustakaan buku di gledak, hingga aksi yang bertentangan dengan kepentingannya diterima dengan tindakan-tindakan represif oleh aparat reaksioner. Media sikulasi informasi pun dikontrol oleh Negara, serta media borjuasi turut serta dalam membangun iklan-iklan produk kapital, sinetron, dan berita-berita tentang aktivitas serta gaya hidup orang klas menengah dan atas. Mewartakan tokoh populer dari latar belakang sosial. Sehingga memaksa masyarat untuk induvidualisme, kerja keras dalam terpecah-kelompok serta, semakin tak percaya dengan revolusi, perlawanan terhadap rezim dalam aksi massa yang besar, hingga menerima ketertindasan sebagai sebuah takdir. Kebebasan dan perubahan diartikan sebagai sebuah rezeki, dan penderitaan pula diaminkan sebagai takdir dan teguran atas sistim produksi sumber-sumber kehidupan yang lewat batas-hukum alam. Artinya rakyat menyadari adanya penindasan tetapi kesadaran untuk melawan, berjuang demi sebuah revolusi; dan nalar kritis ini lah media memaikan peran penting menghegemoni rakyat.

Dengan kemajuan teknologi yang siap saji, disertai dengan banjiran ilmu pengetahuan borjuis, berita-berita hox serta oponi publik yang tak bersumber dan memprovokasi yang makin marak rakyat pun semakin terasuk dalam banjiran informasi itu. Entah! Siapa yang mengendalikan alat control pikiran itu, dialah yang menguasai.

Penulis : Jhon Gobai, Kader AMP


ilustrasi gambar. Sumber: Pinterest dot kom
Pada 6 Juli 2017, Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bogor (AMP Bogor: Read) melakukan aksi Longmarch rangka-peringati 19 tahun tragedi Biak berdarah (1998-2017). Aksi tersebut didatangi beberapa wartawan media online dan cetak, diantaranya media MetroSindronews.com (6/7) yang mewartakan berita mengandung rasis dan menyudutkan aksi AMP tersebut. MetroSindronews membangun opini publik, menyebarkan citra buruk terhadap Mahasiswa Papua di Bogor, bahwa aksi tersebut sangat-sangat mengganggu aktivitas publik.

Usai aksi, AMP Bogor melakukan evaluasi kesiapan aksi, pasca aksi dan meng-update sikulasi informasinya.

Pemberitahuan Aksi Kepada Polresta Kota Bogor

Sekertaris AMP Bogor, Falen Tekege, mengatakan seringkali Polisi meneror, mengintimidasi, dan menginterogasi anggota AMP yang bertugas mengantar Surat Pemberitahuan (SP: read) aksi ke Kantor Polresta Kota Bogor. Hal itu terjadi sebanyak dua kali dalam tahun 2017.

Pertama, pada 19 Februari lalu saat memasukan surat pemberitahuan aksi ke Kantor Polresta kota Bogor, bagian Intelkam Polisi. Kasat Intel (lupa namanya) menginterogasi, meneror akan ada penangkapan, aksi akan dibubarkan, dan sebagainya. Hingga pada akhirnya surat pemberitahuan pun diterima dengan syarat Kordinator aksi membuat surat pernyataan bahwa apa bila terjadi sesuatu akan dibubarkan aksinya dan Kordinator aksi bertanggungjawab sesuai hukum yang di langgar. Sebelum menandatangani Surat tersebut, Kordinator aksi, Jhe Gobai, menanyakan dalil dasar hukum terkait surat itu. Namun, seorang Intel yang bertugas disaat itu, bentak dengan nada yang keras, Ia mengatakan, “Anda mau aksi angga? Kalau mau silahkan tandatangan ini” tegasnya sambil mengotot Gobai.  

Kedua, Usai aksi 6 Juli, Kordinator aksi, Yanko, dan ketua AMP Bogor, Desmana Waker mengatakan bahwa ketika mengantar surat pemberitahuan aksi ke kantor Polsek Kota Bogor, pada 4 Juli lalu, Polisi meneror Yanko, mengintimidasi, hingga Rute aksi pun dirubah sesuai kehendak Polisi. Rute aksi yang direncanakan dari depan McDonals’d Donat long March ke Tugu Kujang, Polisi merubahnya mulai depan gerbang Istana Bogor-Balai Kota hingga Tugu Kujang. Padahal itu lawan arah melawan arus lalu lintas yang diterapkan Sistem Satu Arah (SSA).

“Selama satu Jam sempat kami negosiasi. Namun karena tindakan teror dan intimidasi yang mendahului oleh Polisi, sehingga rute aksi diubah sesuai kehendak Polisi” Pungkas Waker.

MetroSindronews Berperan Membangun Opini Publik: Media dan Polisi untuk siapa?

MetroSindronews mambangun opini publik bahwa aksi AMP tersebut memacetkan jalan. Media mewartakan kabar yang dikehendaki oleh Polresta Kota Bogor, yang mengharuskan AMP Bogor dengan meneror dan mengintimidasi Mahasiswa Papua saat mengantar SP. Saat longmarch (6/Juli) pula, Polisi pun melakukan aksi sweeping di badan jalan, tepat 200 meter ke selatan dari pintu gerbang Istana Bogor-Balai kota sehingga kemacetan di jalan. Sementara AMP pun melakuan longmarch berlawanan arah di jalur yang sama menuju Tugu Kujang.  

MetroSindronews, hal lain juga, telah memproduksi berita yang tidak sesuai fakta. Aksi peringati 19 tahun tragedi Biak Berdarah, malah diberitakan bahwa aksi tersebut mengecam atas perpanjangan kontrak Freeport. Kenyataannya, sesuai Surat Perss Liris, serta spanduk yang AMP pajangkan, jelas, yang berisi tuntutan “Negara Bertanggungjawab atas Kejahatan Kemanusiaan di Papua Barat” dan “Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Demokratis bagi Rakyat Papua Barat”.
Maka, jelas bahwa, asumsinya, MetroSindronews dan Polresta Kota Bogor berusaha membangun citra buruk aksi Mahasiswa Papua Bogor dan tentu mendiskriminasi keberadaan AMP di Bogor.

Polisi telah melakuan tindakan melanggar Hak manusia untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Dalam hal ini eksistensi tugas dan tanggungjawab Polisi yang sesungguhnya telah bergeser serta turut membangun kebencian antar sesama manusia-masyarakat, dan mencoba membangun kontruksi pikiran masyarat Bogor tentang mahasiswa Papua dan tentu hal itu telah-sedang memupuki yang namanya rasisme, kebencian, dan tindakan melanggar hukum serta hak-hak dasar manusia.

Hal mendiskriminasi dan menyudutkan Aksi AMP Bogor adalah hal yang wajar dalam kerangka AMP melihat musuh utama rakyat Papua Barat, hari ini. Konteks aksi AMP, Militer (polisi) dan media (MetroSindronews) adalah alat kontrol penguasa: Negara dan Imperialis. Dimana militer sebagai alat represif Negara yang mengontrol rakyat dan Media berperan untuk mengontrol pikiran rakyat sesuai kehendak penguasa. Dua subjek ini telah menghegemoni rakyat dengan penyebaran propaganda fakta yang tidak objektif.

Lebih jauh lagi, Negara memiliki aparatus Ideologi dan aparatus reaksioner. Aparatus Ideologi iyalah hukum, Ilmu pengetahuan, ide, filsafat dan gagasan mereka (penguasa), serta lembaga Negara dan parlementar, yang mencorong kepada rakyat melalui alat kontrol pikiran: media (TV, cetak dan online). Kemudian Aparatus Reaksioner iyalah Militer (TNI, Polisi, milisi sipil, ormas reaksioner-nasionalis) yang terus mengontrol kepentingan segelintir kaum penguasa tadi. Sehingga sistim pemerintahan negara yang terpusat di Jakarta, mengendalikan aparatus Ideologi dan aparatus reaksioner sesuai kehendak Penguasa, langgengi kepentingannya. Mereka menjadikan Negara sebagai alat untuk menguasai dan menindas rakyat, seperti kata kamerad Karl Marx bahwa Negara adalah alat Penindasan. Negara, oleh segelintir orang, telah memusatkan wilayah-wilayah yang berbeda secara Politik, ekonomi, bahasa, dan budaya, serta etnis, dengan membangung ilusi-ilusi sebuah bangsa dengan diberlakukan Undang-Undang yang sama, bahasa yang sama, sistim demokrasi yang mewakili para borjuasi dari setiap Provinsi-Provinsi. Sehinga, Undang-undang dan Demokrasi dijadikan sebagai idealisme yang menguntungkan kaum borjuis-kapitalis.

Maka, Polresta Kota Bogor serta MetroSindronews telah memainkan peranannya sebagaimana alat pengontrol rakyat. Mencoba membangun pandangan buruk tentang keberadaan mahasiswa Papua Bogor kepada publik disertai dengan tindakan teror dan mengintimidasi mahasiswa Papua. Sehingga MetroSindronews melegitimasi hal itu demi melanggengi kepentingan kaum penguasa. Agar penjajahan dan penindasan, pembunuhan, penangkapan, pemerkosaan, serta mengkeruk alam, menguras manusia, terus terjadi diatas Negeri ini. Para pelaku (Militer) pembantaian berusaha menyembunyikan tindakan kejinya.

Maka, Militer dan media adalah aparatus negara yang merepresif rakyat serta mengotrol pikiran rakyat melalui filsafat, ide serta gagasan yang menghegemoni rakyat melalui Media.

Penulis: Jhon Gobai, Kader AMP



Massa aksi saat bergantian orasi di tugu Kujang Bogor. Gambar: Dai Lani
Sejarah kehadiran Freeport—yang tanpa sepengetahuan orang Asli Papua sebagai emilik saham (tanah)—dan kehadiran Indonesia di tanah Papua adalah ilegal dan awal dari Penindasan, Pembunuhan dan Pengisapan, di bumi cenderawasi  Papua. 

Apa lagi dengan kusruh Freeport dan Pemerintah Indonesia yang berpolemik tanpa pertimbangkan kebeadaan Rakyat West Papua; dan juga PTFI telah memberikan dampak buruk kepada Rakyat Papua: Kerusakan Lingkunagan, Pelanggaran HAM, Kemiskinan, Pemobodohan. Sehingga Rakyat West Papua telah sadari atas sejarah bahwa Freeport juga adalah dampak dari aneksasi Papua dalam bingkai NKRI. 

Artinya, sejak Indonesia mengklaim (1962) dan awal masuk Freport (1967) sampai saat ini pemerintah tidak menghiraukan aspirasi rakyat papua yang lahir dari keberadaan sosial—juga sebagai bentuk dari penjajahan. Maka Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bogor menyatakan sikap, dan berada di garis perlawanan bersama masyarakat akar rumput, dalam bentuk aksi long march.

Berikut Kronologi aksi:

Awal orasi titik kumpul di mall lippo plaza depan pintu 3 kebun Raya Bogor pada pukul 06:39 pagi sudah di tunggu oleh aparat Militer :

Waktu
Keterangan
06:39
10 Orang Lantas, 3 Mobil Lantas Dan 4 Motor di titik kumpul Aksi (Baca: TKA)
07:13
5 Provos Dan 1 Tentara datang ke TKA
07:17
1 Motor Lantas Dan 4 Orang Polisi datang ke TKA
07:20
Kolonel Kodim, 1 Mobil Kodim, 6 Intel Polisi Dan Tentara datang ke TKA
07:22
1 Motor Lantas datang ke TKA
07:29
1 Orang Masa datang ke TKA
07:32
4 Intel Polisi Dan 1 Tentara datang ke TKA
07:45
5 Tentara Dan 3 Provos datang ke TKA
07:51
Koloniel Meninggalkan Lokasi Titik Kumpul
07:59
1 Mobil Lantas Meninggalkan Titik Kumpul
08:00
Mobil Padwal Meninggalkan Lokasi
08:10
Masa Baru Berkumpul 10 0rang
08:22
Dua Orang LBH ( Lembaga Bantuan Hukum )
08:49
3 Motor Polisi Dan 1 Mobil Mengawal Masa
09:05
Bergerak Dari Depan Titik Kumpul Ke Titik Kujang Kota Bogor
09:05
30 Masa Bergerak Ke Tugu Kujang
09:12
10 Polisi, 4 Inteligen, LBH Bogor: bertambah 1 jadi 3 Dan 2 Tentara
09:56
Sampai Di Tugu Kujang Titik Orasi
09:56
30 Polisi, 5 Tentara , 10 Motor Dan 4 Mobil Polisi
10:09
Penambahan massa aksi 3 Orang
10:57
Penambahan massa aksi 2 Orang
11:18
Pembacaan Stekmen
Aksi berjalan lancar dan aman tanpa di provokasi. Kemudian, pada pukul 11:18 waktu Bogor, Kordinator umum aksi, Bob Lani, telah mengakiri dengan membacakan statement aksi (Baca pernyataan, Klik disini!).


Kronolog: Katara Pallo

AMP Foto; Edited by Angin Selatan;list
Yogyakarta, AMP--Sesuai seruan yang di keluarkan oleh Pimpinan AMP Pusat, Jefry Wenda, kemarin, hari ini, Senin, 27 Juli 2015,  Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Se-Jawa dan Bali memperingati  HUT AMP ke 17 secara serentak di masing-masing kota, dengan Thema Nasional: “Mempertegas Garis Perjuangan Organisasi Dalam Perjuangan Pembebasan Nasional Bangsa Papua Barat.” Dan Sub-Thema: “Dengan HUT Aliansi Mahasiswa Papua Bersama Kebenaran Sejarah, Memperjuangkan Cita-Cita  Sejati Pembebasan Nasional Rakyat Bangsa Papua Barat.”

AMP Komite Kota (KK) Yogyakarta bersama Komite kota Semarang-Sala Tiga, telah menggelar Ibadah Syukuran di Kali Baliem dengan aksi “Bakar-Bakar” sebagai persembahan.

Dikabarkan pula kepada AMPNEWS.ORG melalui Telepon Seluler dan Media social (fb), AMP KK Surabaya dan Malang melakukan Ibadah syukuran bersama di Asrama PANA (Paniai Nabire), Malang.

Kemudian, AMP KK Jakarta pun melakukan ibadah yang sama, bertempat di Asrama Tolikara, Condek Jakarta.

AMP KK Bandung juga melakukan Ibadah syukuran bersama di Asrama Timika, Bandung.
Dan KK Solo dan Bogor juga melakukan Ibadah yang sama.
Kemudian KK Nabire-Paniai, KK Numbai, KK Agisiga pun demikian, melakukan kegiatan yang sama.

Wenda mengatakan, “Saya ucapkan selamat merayakan HUT ke-17 Aliansi Mahasiswa Papua disetiap komite-kota, dan Komisariat. Salut kepada seluruh anggota AMP dimanapun Kawan – kawan berada dalam pengabdiannya melakukan kerja membangkitkan, menggerakan dan mengorganisasikan kesadaran massa Rakyat Papua untuk memperjuangkan hak – hak demokratis Rakyat Papua.” Di tulis dalam Suratnya Kepada kawan-kawan.

Lanjut Wenda, “Kawan-kawan tetap konsisten berada di garis terdepan massa dan terus menggelorakan, membangkitkan, mengorganisasikan dan mengerakkan massa untuk melawan tiga musuh rakyat papua.”

Hari HUT AMP yang ke 17 ini telah digelar Ibadah secara serentak di masing- masing Komite kota kemudian diakhir dengan sayonara. (P. Gobai/AMP)

AMP foto: Samuel Nawipa (Aktivis AMP)
Bogor, AMP - Ini Kronologis Penangkapan Terhadap satu orang Aktivis AMP Bogor, saudara Samuel Nawipa oleh dua anggota Brimob atas Perintah Kapolda Metro Jaya Jakarta, Tito Karnavian.

Aksi penangkapan terjadi sejak pagi, pukul 08.00 WIB, Kamis, (23/7/2015) di Emawa Jl.Bangka- Bogor.

Setelah Sebelum terjadi aksi penangkapan tersebut, Kapolda Metro Jawa, Tito Karnavian menelpon Samuel Nawipa Berulang kali melalui Hand Phone miliknya.“Saya dihubungi berkali-kali oleh utusan Tito Karnavian Polda Metro Jaya – Jakarta, namun saya tidak menerima telpon dari mereka” ucap Nawipa kepada AMPNEWS.Com melalui telepon seluler. 

Akhirnya dua orang anggota Brimob yang bertugas di Kidung Halang Bogor mendatangi dan menangkapnya di kontrakan Emawa. Aksi penangkapan tersebut terjadi tepat pada pukul 11.31 WIB. Kemudian, kedua anggota Brimob memaksa saya agar secepatnya siap dan mengikut mereka ke Polda Metro Jaya, Jakarta.
"Saya kaget karena dua orang anggota Brimob masuk ke dalam kontrakan Emawa, langsung menuju ke kamar nomor 2 tempat saya berada. Mereka langsung tanya; Semuel yang mana?" Lanjut Nawipa.

Langsung ia berdiri dari tempat tidur dan sambut Kedua anggota Brimob itu, "Iya Kakak, Semuel itu saya," kata Nawipa sambil menunjuk diri.  Saat itu, ada berjumlah empat penghuni (Termasuk Nawipa) di dalam kontrakan itu.

Sempat terjadi percakapan yang cukup panjang antara kedua anggota Brimob dan Nawipa .
Saut Nawipa; "Kakak, ada apa ini?" ,  "Adik ikut kami." ucap brimob. Nawipa bertanya, "Saya salah apa Kakak?" ,  "Justru adik tidak tahu itu yang adik ikut.” Jawab Kedua Brimob. "Ah, kalau tujuannya tidak jelas jangan paksakan saya karena hari ini saya punya aktivitas banyak." Nawipa berkata kepada kedua Brimob.  "Ah tidak. Adik ko ikut karena ini perintah atasan.” Kata Brimob dengan nada yang keras. Karena dipaksa, Nawipa ikut mereka, lalu Ia didampingi oleh seorang kawannya, Sisilius Pugiye.

Kemudian, oleh kedua anggota Brimob itu membawah mereka berdua menggunakan mobil Provoost Brimob.

Setelah tiba di Kantor Polda Metrojaya, Jakarta, kemudian mereka langsung dibawa ke Kasat Intel untuk interogasi pertama selama sepuluh menit. Dalam interogasi tersebut hanya menanyakan seputar identitas pribadi Nawipa.

Setelah itu, mereka berdua diarahkan ke ruang Kapolda Metrojaya, Tito Karnavian untuk melakukan interogasi berikutnya.

Di bawah ini merupakan hasil interogasi dalam bentuk percakapan. Tanya Tito; "Kamu Semuel kah? Frans kah? Atau Sonny?” ,  "Saya Semuel." Jawab Nawipa(kedua teman ini merupakan incaran mereka juga). "Suku apa?" Lanjut Tito. "Saya orang Papua." Ucap Nawipa. "Di Jawa tinggal dimana?" lanjut Tito.  Nawipa tidak merespon (diam saja).  "Kuliah dimana?" Kata Tito. Nawipa masih diam saja. Lanjut Tito, "Semuel, Kuliah di Kampus mana?", "Kampus Pakuan Bogor." Ucap Nawipa. "Selain kuliah, ada aktivitas lain?" Lanjut Tito. Jawab Nawipa, "Berjuang Papua Merdeka." Tito; "Kenal ketua umum KNPB dan OPM?" ,  lanjut Nawipa "Iya.", "Ada hubungan pribadi dengan KNPB dan OPM?" Lanjut Tito. Nawipa; "Iya, kami punya satu tujuan, Papua Merdeka." , LanjutTito; "Tahun lahir?"  Nawipa tidak merespon pertanyaan Tito (diam saja). Lanjut Tito, "Sudah berapa lama di Bogor?" Nawipa masih tidak meresponnya (diam saja).

Sisilius Pugiye juga ditanya hal yang sama. Namun karena banyak pertanyaan yang tidak ditanggapi, Nawipa bersama Pugiye di disuruh keluar dari ruangan Kapolda didampingi oleh salah satu petugas, bernama Rahmat H.W.

Saat mereka berdua diluar, kedua Brimob bersama Tito Karnavian melakukan pertemuan tertutup selama sepuluh menit di ruang Kapolda.

Setelah itu, mereka berdua dibawa ke Kasat Intel yang didampingi oleh empat orang intel. Kemudian, kedua Brimob tadi bersama beberapa intel melakukan pertemuan tertutup lagi di ruang pertemuan Kasat Intel sekitar 20 menit.

Setelah selesai pertemuan tersebut, Nawipa bersama temannya, pugiye, dibebaskan pada pukul 14.17 WIB. Kemudian mereka berdua diantar pulang ke Bogor oleh kedua Brimob tersebut.

Tidak ada tindakan penganiyaiyaan dalam proses penangkapan, interogasi hingga mereka di bebaskan.

"Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apa maksud dan tujuan saya dipanggil oleh Tito Karnavian, karena pertanyaan saya yang diajukkan ke kedua Brimob pada saat penangkapan belum juga dijawab oleh Tito Karnavian mengenai kesalahan saya." Ucap Nawipa dengan nada yang penuh kesal. Paulo G/ AMP

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats