Halloween party ideas 2015

gambar demostrasi aksi pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua. Sumber: BennyW10
Penulis: Jhon Tigi*

Papua adalah wilayah bekas jajahan oleh kolonial Beland—dan kini Indonesia menjajah--itu fakta bukan mitos.

Belanda pernah membina dan mempersiapkan kerangka Negara West Papua—yang Kemudian dianeksasikan kedalam Bingkai Kolonial Indonesia dengan cara yang tidak demokratis dan perlakuan tak manusiawi. Rakyat Papua harus rebut kembali melalui jalur yang demokratis yang jujung tinggi di mata Internasional melalui mekanisme REFERENDUM. Referendum adalah jalur yang demokratis untuk menyelesaikan status politik Bangsa West Papua.

Sebagian besar dari rakyat Indonesia meyakini bahwa West Papua adalah Indonesia. Bukan! West Papua bukan Indonesia. Tak ada kebahagiaan bagi rakyat Bangsa West Papua selama masih menjadi bagian NKRI. Dan, tak mungkin rakyat West Papua bisa hidup baik-baik saja jika kecurangan dan penipuan atas sejarah masih terus berlangsung, diskriminasi rasial merajalela hingga semua lini, genosida terus berlanjut secara sistematis, dan perampokan kekayaan alam menghancurkan hajat hidup dan kebudayaan Bangsa Papua.

Aneh jamannya kolonial Indonesia berubah total, semua segala sesuatu yang empunya anak cucu orang Papua dikendalikan oleh kolonial Indonesia dalam segala bidang, orang asli Papua yang kulit hitam berambut keriting dan ras Melanesia ini, tinggal diam, jadi penonton setia di atas negerinya sendiri. Meskipun, Bangsa Papua ditindas, didiskriminasi, dibunuh, dibantai, dibohongi, dicacimaki tetapi kami rakyat Papua jangan kita diam dan sandiwara dengan hegemoni local sukuis dll, tetapi mari kita bersama mengajak kepada rakyat untuk melawan system colonial Indonesia ini.

Bangsa Papua kalau masih ada di kekuasaan Indonesia maka nasibnya akan seperti kata Ali Murtopo bahwa “Jakarta tidak perlu manusia asli Papuanya,melainkan kekayaan Alamnya, kalau Papua mau merdeka, suru Amerika bawa ke bulan kalau tidak cari pulau di Pasifik”.

Jadi, orang Papua tetap dibunuh dengan cara yang halus dan mengirim masyarakat Non Papua ke Papua dan penuhi seluruh tanah Papu; dan merupaka mendominasi/menghapuskan Papuanya.

Meskipun Indonesia tidak mendengar suara orang Papua, tetapi banyak diluar sana yang sedang mendengar jeritan Bangsa Papua sehingga masalah Merdeka atau tidak itu hanyalah kita menunggu waktu, karena kebenaran akan memerdekakan dari segala bentuk kekerasan dan segala kembohongan yang dilakukan Indonesia terhadap Bangasa Papua dari sejak Indonesia memasukan Papua melalui PEPERA yang penuh rekayasa sampai saat ini, Indonesia masih pertahankan bahwa Papua bagian dari Indonesia.

Meskipun Indonesia menggulirkan dana (Miliaran rupiah) begitu besar ke Papua Barat, tetapi dana tersebut itu selalu hilang ditengah jalan karena ada kelompok yang dibodohi oleh sistem Indonesia sendiri secara  halus; kemudian yang menderita adalah rakyat kecil.

Meskipun Indonesia berusaha untuk meredamkan pergerakan pembebasan Nasional Papua Barat (Gerakan Papua Merdeka) dalam bentuk cara apa pun, Rakyat Bangsa Papua tidak akan menyerah; yang ada hanyalah lawan dan lawan sampai Merdeka.

Oleh karena itu, jangan memaksa rakyat bangsa Papua untuk tetap berada di kekuasan Indonesai. Segala macam bentuk apa pun cara yang digunakan untuk menutup mulut orang Papua tidak akan pernah orang Papua diam menyuarakan Papua Merdeka di dalam negeri maupun di luar negeri, sampai Papua akan Merdeka. Meskipun, ada orang Papua yang pro merdeka. Jadi Indonesia jangan bermimpi di siang bolong, tak ada gunanya, mimpi itu tidak akan pernah terwujud—hanya ada di negerinya para pesulap”—Tony Q Rastafara.

***

Penulis adalah aktivis Self-Determination, anggota AMP Semarang-Salatiga yang kualiah di Kota Semarang.

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats